The Life of Kartini

The Life of Kartini
The Life of Kartini

Catatan dari Pementasan “the Life of Kartini
Oleh. Day Milovich,,

Hambatan awal yang saya hadapi adalah mengikis kerak-kerak penafsiran atas biografi Kartini. Terlalu banyak “praduga” (preassumption) dan “kata orang” tentang Kartini. Saya tidak ingin memproyeksikan Kartini, tidak ingin membuat hologram atau “bayangan” Kartini. Obyektivikasi itu berbahaya, apalagi jika hanya berdasar apa yang Anda baca di buku dan internet. Pertanyaan awal saya kepada kawan-kawan saat mereka ingin mengangkat cerita Kartini, yaitu, “Kartini akan ditampilkan seperti apa?“.

Saya menunda penyimpulan yang sudah menggejala dalam kebanyakan pembaca Kartini. Pramoedya Ananta Toer, misalnya: menganggap Kartini “korban” (victim) dari peradatan Jawa, bentukan budaya Belanda. Pramoedya memakai semangat egaliter untuk mencitrakan Kartini yang bukan (seorang) Raden Ajeng dalam “Panggil Aku Kartini Saja“. Apakah kita akan memanggilnya “Kartini” saja? Saya tidak. Kartini selayaknya disebut Raden Ajeng. Dia punya kapasitas dan tindakan seorang Raden Ajeng. Kalau seorang sejarahwan yang senyatanya pintar, dia bilang di akun Facebook, “Saya ini tidak tahu apa-apa tentang sejarah“, apakah kita akan menggunakan pernyataan dia untuk dikabarkan kepada semua orang, “Lihatlah, orang ini mengaku nggak ngerti tentang sejarah. Jadi, jangan anggap dia pintar sejarah.“. Banyak orang pintar yang mengaku tidak mengerti apa-apa, bukan berarti kita harus menyatakan dia bukan apa-apa.

Seorang Raden Ajeng yang senyatanya, dengan segenap beban dan kewajiban yang ada di balik gelar “raden ajeng” itu, sepantasnya membiarkan orang lain menilai. Tugas dia bukan menilai diri-sendiri. Seorang Raden Ajeng menjalankan tanggung jawab. Saya menyatakannya dalam teks pertunjukan, Kartini berkata, “Keningratan membawa kewajiban.“.

Seorang Raden Ajeng yang senyatanya, dengan segenap beban dan kewajiban yang ada di balik gelar “raden ajeng” itu, sepantasnya membiarkan orang lain menilai. Tugas dia bukan menilai diri-sendiri. Seorang Raden Ajeng menjalankan tanggung jawab. Saya menyatakannya dalam teks pertunjukan, Kartini berkata, “Keningratan membawa kewajiban.“.

Apakah dia bentukan Belanda? Tentu. Apa yang tidak dibentuk dan dipengaruhi Belanda waktu itu? Siapa saja yang bersekolah Belanda, berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Kartini, Soekarno, Hatta, Kartono, mereka berbahasa Belanda.

Kolonialisme, pada akhir 1800 sampai awal Abad XX (1903), belum memberikan pendidikan merata. Kartini berkesempatan mengenyam pendidikan Belanda. Dia berbakat polyglot seperti Kartono, jenius bahasa nan tampan itu. Kartini fasih berbahasa Belanda. Pada masanya, pendidikan Belanda mengalami zaman keemasan, tentu karena Belanda termasuk penjajah yang beruntung menguasai Hindia Belanda (belum ada kata bangsa dan negara Indonesia, waktu itu), karena menguasai rempah-rempah di negeri jajahannya yang dinikmati orang-orang Eropa. Kepintaran berbahasa Belanda Kartini, boleh Anda buktikan. Ahli bahasa Belanda banyak yang geleng-geleng membaca keindahan surat-surat Kartini dalam berbahasa Belanda. Saya tahu dari pengunjung museum, orang Belanda, yang ahli sastra Belanda. Itu sebabnya Abendanon dan isterinya yang bisa mengimbangi kepintaran berbahasa Kartini.
Kartono sangat sayang kepada Kartini, dan jalinan intelektual Kartini bisa dilihat dari garis pergerakan yang dilakukan dua orang bersaudara ini. Pendidikan.

Kartono dan Kartini sama-sama percaya (dan melakukan) gerakan pendidikan. Kartono tidak pernah mengaku memiliki murid, meski senyatanya pengikutnya sangat banyak, sampai sekarang. Keduanya sama-sama menjalani “laku” sebagai manusia Jawa. RM. Soesalit atau RM. Singgih (nama anak Kartini sekaligus nama kecil suami Kartini) memahatkan gambar dan ajaran hidup Jawa sedemikian kentalnya. Anda bisa melihatnya di Museum Kartini Rembang: “Elinga: Urip iku Gaduhan, Drajat iku Silihan, Amal iku Karya“. Ingatlah: Hidup itu Gaduhan, Derajat itu Pinjaman, Tindakan/Perbuatan itu Karya.” Dia menuliskannya dalam alur gelombang, dipajang di sebelah gambar sapi dalam kandang. Kata “gaduhan” memang akrab dengan peternakan, tidak ada padanan-kata yang pas.

“Elinga: Urip iku Gaduhan, Drajat iku Silihan, Amal iku Karya”. Ingatlah: Hidup itu Gaduhan, Derajat itu Pinjaman, Tindakan/Perbuatan itu Karya.”

Dalam keluarga macam apa, seorang bapak memberikan nama kecilnya untuk anaknya? Keluarga Jawa, Amerika, Arab, banyak yang melakukan hal ini. Yang jelas, keluarga yang sangat bahagia. Kartini menyatakan hal tersebut, suaminya juga menjelaskan jejak-jejak kebahagiaannya setelah kepergian Kartini, kepada kawan-pena Kartini. Ini berarti, suaminya selalu tahu apa yang dituliskan Kartini kepada kawan-kawannya, dia menceritakannya saat berdua di pantai, di peristirahatan Bulu, dan di Rembang.

Anda bisa melihat jejak kebahagiaan ini jika memasuki arsitektur museum Kartini Rembang. Kamar Kartini berada dekat pintu masuk, di sebelah kiri. Jika terus ke kiri, Anda akan bertemu kamar para selir. Setiap suaminya menuju kamar-kamar selir itu, melewati ruang kamar Kartini. Anda tahu jika pernah memasuki museum Kartini. Besar kemungkinan, lewatnya dari situ, karena, tepat di depan pintu masuk adalah ruang tamu, belakangnya ruangan yang dibagi menjadi ruang-menulis (tempat dia memandang jendela, kebun mawar dan melati, serta kamar para selir), ruang makan, dan ruang membatik dan melukis. Ketiga ruangan ini tidak diberi sekat. Bagian paling belakang tentu saja dapur. Kartini sudah menggunakan penyaring air (semacam dispenser tanpa aliran listrik) dan “bathtub” untuk mandi cantik.

Gaya hidupnya sederhana. Pada bulan September, saat dia hamil tua, Kartini menceritakan tentang pembelian celana dan kekang kuda dalam nominal yang tidak seberapa waktu itu. Kita harus melihat ukuran-ukuran pada zamannya. Pada masa ini, 3 orang (dari 5 orang) pendiri NO berasal dari Lasem, hidup semasa dengan Kartini, mungkin bisa memperjelas tentang apa yang terjadi di Rembang waktu itu. Anda bisa melacaknya sendiri. Orang Rembang menyebut NO, singkatan dari Nahdlatul Oelama. Bukan NU. Saya memperhatikan apa yang terjadi setelah Kartini “pulang“. Tahun 1907 terjadi, gerakan “diam” Samin terjadi, gerakan yang tidak-menulis. 1908 terjadi Boedi Oetomo. Dan seterusnya.

Di Kamar Kartini ada ranjang bagus dan meja untuk merawat bayi. Arsitektur museum Kartini Rembang memperlihatkan pengetahuan Belanda. Saya tidak tahu, adakah intervensi Belanda atau China terhadap bangunan tersebut. Yang jelas, arsitekturnya bagus, cocok untuk perempuan aktivis, yang banyak gerak. Anda akan memperoleh gambaran tersendiri, seperti apa keluarga Kartini jika Anda merasa menjadi penghuni rumahnya.

Singkatnya, Kartini bahagia, suaminya menganggap semua isterinya istimewa, dan “kemesraan” Kartini dengan suaminya tergambar dari terciptanya sekolah kecil dan kehendak menuliskan Babad Tanah Jawa berdua. Seorang bupati dan seorang perempuan cerdas, di belakangnya ada Rukmini dan Kardinah (Klientje, si Bungsu), dan ibunya. Kardinah punya andil besar dalam menuturkan seperti apa Kartini. Saya tidak bisa menguraikan dengan panjang lebar. Jadi, saya menyimpulkan kebahagiaan Kartini dari apa yang dia kerjakan (dengan suaminya), arsitektur rumahnya, dan Jawa pada masa itu. Bukan hanya dari surat-suratnya.

Sekadar catatan, Kartini didambakan bapaknya menjadi “senopati“. Kartini menghadapi peperangan sesungguhnya, menghadapi musuh bernama “pembodohan” (proses membodohkan manusia) dan pemiskinan. Kartini mengubah Hindia-Belanda, salah satunya, dari dapur. Memasak bisa mengubah manusia. Saat Hindia Belanda ditukar dengan rempah-rempah, Kartini sudah membuat buku resep masakan rahasia. Dia bisa menu Jawa, China, Arab, dan Belanda. Dia mengajarkan kepada para muridnya, bagaimana penguasaan atas kuliner akan bisa merebut kembali rempah-rempah dari penguasaan Belanda. Sebagian orang meledek perempuan Jawa yang pekerjaannya dianggap seputar macak-manak-masak. Tidak demikian dengan Kartini.

Kartini didambakan bapaknya menjadi “senopati“. Kartini menghadapi peperangan sesungguhnya, menghadapi musuh bernama “pembodohan” (proses membodohkan manusia) dan pemiskinan

Lihatlah sebuah bangsa yang tidak menghargai kuliner. Resep-resep hilang, berhadapan dengan lisensi dan hak paten. Desa-desa yang kehilangan pabrik gula, cengkeh yang menghilang dari resep roti, nasi liwet yang kehilangan tungku dan arang, dan lain-lain. Kelezatan makanan dan komposisi masakan yang bisa menjaga tanaman dari kepunahan, memasukkan makanan sebagai pengobatan tradisional, dll. Lihatlah Korea, Turki, China, dan negara-negara yang menjunjung tinggi masakan. Mereka besar. Jepang tidak. Jepang tidak kenal bumbu serumit Indonesia. Jepang mengandalkan saus, memakan ikan mentah, sedangkan orang Indonesia lebih civilized dalam meracik masakan.

Kita dijajah, salah satu alasannya, karena rempah-rempah dan kelezatan yang diukur dengan lidah. Jadi apa alasannya mencibir pelajaran memasak? Apa alasannya menganggap orang yang upload masakan rumahan di Facebook atau instagram itu dianggap lebay? Bukan ngiklan, sampai sekarang Anda bisa menikmati resep rahasia Kartini itu di buku yang sudah di-edit. Terjual bebas di toko-toko buku.

Saya ingin mengimajinasikan Kartini, membentuk citraan baru atas sosok Kartini sebagai fiksi yang selalu hidup. Kartini yang bahagia, berjuang bersama suaminya, dan sudut pandangnya melampaui zamannya. Saya tidak menampilkan sosok Kartini yang sosialis, meskipun Gerwani (anak-organisasi di bawah PKI) yang mengusulkan Kartini menjadi pahlawan perempuan. Saya lebih suka menyebutnya perempuan-pahlawan, lebih “human”. Saat Habib Luthfi (dari Pekalongan), seorang ulama jenius dan paham segala macam silsilah maupun sejarah, menceritakan sosok Kartini dan memasuki kompleks makam, barulah orang melirik siapa sebenarnya Kartini. Walaupun Kartini diceritakan masih ada nasab abcd (bagus semua), belum ada pengajian di kompleks makam Kartini. Padahal senyatanya, dalam sebuah upacara perkawinan sederhana, Kyai Saleh Darat Semarang (guru besar para pendiri NO), datang memberikan tafsir al-Qur’an berhuruf Arab pegon, berbahasa Jawa, kepada Kartini sebagai hadiah. Momen macam apa ini?

Saya tidak menampilkan sosok Kartini yang religius, tentang hafalan Kartini, seperti pembelaan Islam-kanan yang sering mengaku Kartini milik Islam, bukan karena saya benci Islam. Kebanyakan mereka ini hanya melihat dari tulisan-tulisan Kartini. Mereka hanya menghubung-hubungkan tanpa memasuki dunia Kartini.

Apa yang dilakukan Ibu Kartini saat istirahat di rumah dekat makam beliau? Mengapa Ibu Kartini ingin anak perempuan? Apakah suaminya sayang sama dia? Hobinya Ibu Kartini apa? Bagaimana caranya Ibu Kartini berbicara dengan rakyat biasa, bagaimana? Mengapa ibu dan saudaranya ikut Ibu Kartini waktu dia diperisteri Bupati Rembang? Mengapa fotonya Ibu Kartini ada di sebelah kanan suaminya? Mengapa Ibu Kartini kalau foto jarang melihat kamera?

Beberapa tahun yang lalu, saya dan anak-anak SMA melakukan “historical tour” (napak-tilas) ke makam RA. Kartini. Mereka punya pertanyaan menarik:

Apa yang dilakukan Ibu Kartini saat istirahat di rumah dekat makam beliau?

Mengapa Ibu Kartini ingin anak perempuan?

Apakah suaminya sayang sama dia?

Hobinya Ibu Kartini apa?

Bagaimana caranya Ibu Kartini berbicara dengan rakyat biasa, bagaimana?

Mengapa ibu dan saudaranya ikut Ibu Kartini waktu dia diperisteri Bupati Rembang?

Mengapa fotonya Ibu Kartini ada di sebelah kanan suaminya?

Mengapa Ibu Kartini kalau foto jarang melihat kamera?

Malamnya, saya membaca puisi “Kartini” di stasiun kereta api Rembang. Kebanyakan kawan-kawan SMA ini, tidak terlalu peduli dengan artikel di internet. Mereka bertanya secara spontan. Tidak banyak yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Saya butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menjawabnya. Tahun ini, saya berkesempatan menghadirkan-kembali Kartini ke atas panggung dengan citraan sebagaimana pertanyaan-pertanyaan itu. Kartini yang istirah untuk merenungkan strategi nyata dalam melawan pembodohan. Bulu yang riuh dan penuh eksploitasi hutan di masa kolonial, dengan air yang sangat melimpah (setidaknya sampai tahun 2000), berupa bukit kecil. Bulu belum sebuah kecamatan, waktu itu. Kecamatan, sampai tahun 1932 di Rembang baru 5, Lasem dan Bulu belum termasuk kecamatan.

Kartini ingin anak perempuan dengan sejuta motivasi atas kekuatan perempuan. Dia justru ingin mengembalikan Jawa yang maternalistik, di mana peran perempuan di Jawa Kuno sangat dominan. Lihatlah Ratu Kalinga, Tribhuwanattunggadewi, peran nini-ampu, dukun, bumi sebagai ibu, dan seterusnya. Menjadi perempuan dan mengembalikan perempuan pada peran kuno (primitive, primordial) inilah yang bisa mengembalikan keluarga menjadi keluarga, lelaki menjadi lelaki. Jangan bicara kesetaraan dengan cara Barat, apalagi memperlawankan lelaki dengan perempuan. Kartini berpikir jauh. Sebagai pendekatan, pelajarilah kembali sosiologi dan struktur masyarakat kuno di Nusantara untuk melihat seperti apa perempuan dalam masyarakat.

Kartini ingin anak perempuan dengan sejuta motivasi atas kekuatan perempuan. Dia justru ingin mengembalikan Jawa yang maternalistik, di mana peran perempuan di Jawa Kuno sangat dominan. Lihatlah Ratu Kalinga, Tribhuwanattunggadewi, peran nini-ampu, dukun, bumi sebagai ibu, dan seterusnya

Kartini punya hobi keren: dia suka membatik, dia bangga memakai hasil batik dia sendiri, bahkan mengajak para seniman-ukir dan kriya dari Jepara untuk memasarkan hasilnya, serta dipamerkan sampai Belanda. Mental swadaya dan swasembada sudah mendarah-daging pada diri Kartini. Anda bisa cek

Apakah Anda anggap Belanda itu entitas yang homogen? Belanda tidak demikian. Pelajarilah kembali sejarah. Belanda ada kelompok pemrotes penjajahan, ada yang ingin selalu menanam penjajahan pengetahuan di Hindia-Belanda, ada yang hobinya eksploitasi dengan kekuatan militer, ada yang ingin tinggal dan hidup di Hindia-Belanda yang sangat eksotis menurut mereka. Yang bikin Yayasan Kartini (di Semarang) itu orang Belanda. Jangan bilang Kartini terjajah kalau tidak tahu kapan VOC bubar dan apa itu VOC.

Kartini biasa membentangkan kain putih dan meminta orang-orang bebas menulis di kain itu. Dia bisa “membaca” keinginan orang-orang. Dia pelukis. Dia perupa. Dia tahu karakter dan bahasa orang hanya dari coretannya. Dari sanalah dia membuat motif burung Hong (lambang kebijaksanaan) dan Sekar Jagad. Kepintarannya membatik dari Jepara, berpadu dengan motif batik Lasem. Sayangnya, sampai sekarang banyak peneliti dan dosen pembimbing yang membiarkan judul “seni batik lasem“, semestinya “motif batik Lasem“.

Saat saya download teks dari Leiden dan memotret tulisan tangan Kartini, saya mempelajari seperti apa pribadi Kartini. Apakah dia tomboy? Suka bertanya? Tipikal pemberontak? Mengetahui takdirnya sebagai martir (bukan victim)? dan lain-lain. Itu sebabnya Kartini diikuti ibunya ke mana saja. Kartini mengkhawatirkan. Tindakannya mantap, strategis, dan berawal dari ruang privat dia.

Siapakah nemesis dan alter-ego di sekitar Kartini? Menjadi apakah setangkai mawar, melati, dan kathil, di tangan Kartini? Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan itulah, motivasi saya mulai diujikan. Apakah saya bisa menceritakan secara visual dan tanpa banyak kata, apa yang terjadi dengan Kartini selama di Rembang?

Saya ingin menampilkan Kartini yang “biasa“, yang bebas dari belenggu teks bernama sosialis ataupun Islam-kanan, ataupun Kartini yang dianggap terlalu Belanda. Saya harus melihat dengan kedua mata saya, dengan hati saya. Dan itu butuh waktu bertahun-tahun. Selama sebulan lebih, kawan-kawan Teater Ataru saya ajak memasuki teks Kartini. Kebetulan anggota teater ini perempuan. Mereka belajar berjalan, memegang canthing, bergerak bersama, merasakan kepedihan Kartini, bersemangat dan tidak pernah mengandalkan jiwa sedih. Internalisasi teks ini butuh waktu lama. Mengajak aktor menghayati dan mengalami Kartini, itu butuh kerja-keras dan bukan pekerjaan mudah.

Saya butuh mixing, agar pementasan memiliki warna berbeda. Pementasan ini harus berbentuk kolaborasi. Kalau hanya kawan-kawan Ataru, dengan pengalaman kurang dari 3 tahun, saya tidak berani bertaruh. Lagi pula, saya jarang memakai aktor perempuan.
Berkali-kali saya berdiskusi dengan pemain maupun crew, bahwa pementasan ini bukan pertunjukan drama panggung. Ini pementasan teater multimedia.

Saya bercerita tentang relief, kepada Mailani, Didid, dan Girin saat ngopi bersama, tentang mengapa saya tidak menyajikan bentuk realisme. Saya berJika ada sebuah relief bergambar seperti ini: seorang raja, makhluk bertanduk, dan di belakang makhluk bertanduk itu ada seorang perempuan cantik menggendong bayi, apa yang Anda pikirkan? Anggap saja tidak ada teks pengantar. Ada apa di balik cerita relief ini? Apakah ini tentang isteri raja? Penculikan dan pertarungan? Atau bagaimana? Ada banyak cerita yang bisa direproduksi dari relief tersebut. Cerita akan saya tampilkan seperti relief. Bagaimana jika itu motif batik? Bagaimana jika itu foto Kartini produksi Belanda? Jika saya fokus pada cerita secara linier, kronologis, relief itu akan mati. Kalau relief mati, teks tidak lagi hidup. Saya ingin menampilkan diorama, semacam gerakan-gerakan, diselingi dialog kecil. Saya ingin orang-orang menikmati Kartini seperti saat semua orang memasuki sebuah swalayan, atau candi. Ada yang datang, ada yang bermain, sampai tidak ada batas siapa yang bermain dan siapa yang datang. Jika batas peran ini dikaburkan, maka pengetahuan tentang Kartini bisa bertahan di luar panggung. Kartini akan menjadi perbincangan. Saya tidak suka blocking realisme, tidak suka penceritaan dengan dialog dan waktu linier. Itulah yang membuat pesan teater menjadi mampat, karena semua dijadikan drama, sinetron, dan telenovela. Jadi sejak awal, basis dramaturgi realisme, saya tolak. Ini bukan drama.

Saya tahu, orang semacam Mailani, Girin, Didid, dan Arif Ponco bisa diberi pengertian singkat. Tidak perlu diarahkan harus bagaimana. Penyutradaraan yang saya lakukan, hanya seputar memberi orientasi, ini adegan tentang apa dan di mana tensi yang mau dimainkan. Tidak perlu diatur sekian langkah, suaranya harus bagaimana, dan seterusnya. Script saya sangat jelas. Lampu mau bagaimana, pakai sound effect apa, dan seperti apa “emosi” dalam dialog Kartini, terjelaskan dengan mudah. Semua pemain dan pendukung, memegang script. Jadi, kalau saya bilang “Chapter 1 sudah siap?” maka para aktor yang bermain di Chapter 1 membuat kesepakatan bagaimana blocking dan gesture akan dilakukan. Saya tinggal bilang “Okay”, “Bagaimana kalau begini…”, atau jika perlu bongkar-ulang saya berikan pengertian, bukan instruksi. Batasan saya mudah: jangan salah (misalnya saat memegang canthing dan meracik jamu), adaptasi di atas panggung. Pemain benar-benar bebas, masih menjadi dirinya sendiri. Panggung selalu memiliki keajaiban sendiri. Kawan-kawan yang telah lama berteater, ternyata “terkejut”, begitu pula yang baru pertama pentas di Pendopo Kabupaten Rembang. Saya mengajak mereka masuk ke museum. Mental Kartini harus tertanam ke semua pendukung dan pemain.

Saya tidak sembarangan memilih crew. Sofyan Deer (Kancil), menjadi master of property, dia salah seorang artisan yang mengerjakan sayap-sayap batik di Festival Lasem. Saya hanya perlu bilang, “Butuh gantangan batik, piranti meracik jamu, dan pepohonan yang dipapras. Jangan tanya bagaimana caranya.”. Saya berani bilang begitu karena sudah sering bekerja bersama dengan orang-orang yang ada di balik panggung “the Life of Kartini“. Cholis, selain mengerti lampu, dia juga seorang guru batik dan memberikan workshop teater. Ipien dapat tugas yang banyak dan berat sebagai art director sekaligus stage manager, yang mengurusi keindahan tata-panggung dan kesiapan pemain. Saya mencegat Girin dan Didid (keduanya memerankan manusia-patung) dari kesibukannya workshop keliling, jauh-jauh dari Tuban dan Lamongan, untuk fisik para pemain. Bersama Arif Ponco, ketiganya mengerjakan koreografi para figuran, di tambah Dokter dari Belanda. Keempat orang ini sudah terbiasa bermain performance art dan pementasan teater. Saya memberikan deadline dan pengertian tentang tiga unsur yang dihadirkan dalam gerakan: kelembutan, pemberontakan, dan duka Kartini. Lalu dikerjakan. Mereka menerapkan disiplin ketat kepada para pemain.

Saya kebagian menggembleng 3 selir dan 2 saudara Kartini, agar bisa tampil sebagai perempuan dalam cerita. Bagaimana gerakan jari, mata, cara duduk, meditasi bersama, dan bercerita tentang perempuan di tahun 1903. Bagaimana mereka bisa meletakkan ponsel dan menyimpan energi anak muda yang masih suka bebas. Bukan kebetulan, jika 3 selir dan 2 saudara Kartini ini tidak diberi dialog. Bagaimana cara memukau penonton, hanya dengan gerakan-gerakan kecil.

Setelah semua ready, latihan beranjak dari sekolahan ke pendopo. Saat para aktor dari Teater Ataru sudah pulang, saya bersama Mailani dan Allief Zam Billah mencoba blocking dan dialog, sampai ketemu gerakan yang pas. Saya tinggal membagi-bagi tugas. Ipien kebagian melatih fisik figuran, lalu diberi koreografi dan dihaluskan Arif Ponco. Kalau ada kekurangan, saya kompromi dengan Ponco. Artistik juga demikian. Saya hanya punya rumus sederhana: ini adegan apa? mengapa adegan ini harus terjadi? gagasan ini bisa diwakili dan dijelajahi dengan apa? Misalnya: bagaimana menggambarkan “kemesraan” Kartini dengan suaminya? Tidak ada sentuhan.

by Day Milovich,

Webmaster, Artworker, Penulis.

Tinggal di Rembang dan Searang.

Admin Mandapo

MAN 2 PONOROGO Religius, Unggul, Berbudaya, Integritas.