Selama masa pandemi covid-19 ini, MAN 2 Ponorogo tidak menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar tatap muka. Kegiatan belajar mengajar pun digelar secara virtual atau daring dengan menggunakan aplikasi e-learning. Seluruh siswa harus belajar di rumahnya masing-masing dan para guru harus memutar otak agar kegiatan belajar mengajar melalui e-learning berjalan secara efektif.

Banyak cerita yang dikisahkan oleh para guru dalam penggunaan e-learning, misalnya buruknya jaringan internet yang menyebabkan komunikasi terputus di Timeline, keterlambatan kehadiran siswa, hingga kesulitan upload dan download bahan ajar. 

Bu Rohmah, salah satu guru Sejarah MAN 2 Ponorogo menceritakan bahwa hal pertama yang dia rasakan adalah molornya jam belajar dan mengajar. Kegiatan belajar dan mengajar yang biasanya mulai pukul 06.45 WIB bisa molor hingga siang.  Ia membetulkan bahwa proses belajar dan mengajar secara virtual seringkali menemui hambatan. 

“Kalau hambatan ya pasti ada. Kita sama-sama tahu bahwa para siswa berasal dari latar belakang yang berbeda baik sosial maupun ekonomi. Makanya saya ambil yang dirasa termudah untuk siswa. E-learning iya, google classroom juga iya, komunikasi tercepat ya WA,” ungkapnya.

Hambatan yang lainnya adalah sulitnya mengumpulkan siswa pada satu waktu. Saat pembelajaran dimulai, seringkali para siswa terlambat menghadiri pembelajaran virtual yang dilangsungkan. Beberapa alasan diungkapkan oleh siswa. Ada yang beralasan koneksi internetnya terputus, kehabisan kuota, masih membantu orang tua di rumah, lupa tidak mengisi presensi, dan lain-lain. Tentunya hal ini akan menghambat proses belajar mengajar yang dilakukan secara virtual.

Untuk menyiasati itu, bu Rohmah menggunakan video, rekaman suara, ataupun power poin untuk membuat para siswa tetap bisa mengikuti kegiatan belajarnya dengan baik meskipun mengalami beberapa hambatan.” Memang kalau materi sejarah itu harus disampaikan secara kreatif agar tidak membosankan. Lewat gambar atau video seringnya. Link videonya kami kirim lewat e-learning, google classroom dan WA, yang mana yang mudah diakses.

Para siswa kami beri kegiatan, entah kami suruh review atau buat esai. Mungkin itu treatmennya yang paling cocok. Ya karena kondisi kayak gini mau gimana lagi? Guru dituntut harus menguasai lebih dari 1 teknologi aplikasi yang menunjang pembelajaran”’ pungkasnya.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.