Ponorogo (20/10/2026) – Tim esai MAN 2 Ponorogo sukses menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Delegasi madrasah berhasil memborong piala Juara 2 dan Juara 3 dalam ajang Historical Fest UNY 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Di bawah bimbingan guru sejarah, Wiretno. Kedua tim dari MAN 2 Ponorogo berhasil memukau dewan juri lewat esai kritis yang mengangkat isu lokal, yaitu praktik perbudakan masa kolonial di eks Karesidenan Madiun.
Prestasi pertama dipersembahkan oleh Tim “Dans der Deadline” yang beranggotakan tiga siswi kelas XII: Berlian Putri Kinasih (XII-9), Luthfiana Nur Fauziah (XII-1), dan Nadine Naura Neyla Najma (XII-11). Ketajaman analisis dan argumentasi yang solid berhasil mengantarkan mereka meraih Juara 2.
Dalam ajang ini, mereka mengajukan esai ilmiah berjudul “DANS DER ADEL: DARI BANGSAWAN MENARI HINGGA EKSPLOITASI PRIBUMI DI SOCIETEIT CONSTANTIA MADIUN PADA ABAD KE-19”. Esai tersebut mengupas tuntas latar belakang sejarah dan gaya hidup mewah kaum elite Eropa di gedung pertemuan Societeit Constantia Madiun. Tim ini secara kritis membongkar kontrasnya kehidupan sosial di balik kegiatan mewah para bangsawan, terdapat ketimpangan sosial serta eksploitasi yang mendalam terhadap masyarakat pribumi lokal yang dipaksa melayani kebutuhan gaya hidup kolonial tersebut.
Keberhasilan tersebut disempurnakan oleh Tim “Artique” yang beranggotakan Arva Zaydan Hilmi (XI-4), An’nisa Aulia Febrianti (XI-6), dan Kafi Ali Zaki (XI-7) yang sukses membawa pulang piala Juara 3.
Tim Artique berhasil memikat juri lewat karya ilmiah mendalam yang berjudul “DI BALIK PAHITNYA GULA: EKSPLOITASI BURUH SUIKERFABRIEK PAGOTAN PASCA AGRARISCHE WET 1870-1942”. Esai ini membedah lembaran hitam industri gula di Madiun pasca-pemberlakuan Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) 1870, yang membuka pintu bagi masuknya modal swasta asing. Mereka menganalisis bagaimana modernisasi Pabrik Gula (Suikerfabriek) Pagotan justru berjalan beriringan dengan penderitaan para buruh pribumi. Di bawah kepemimpinan kolonial tersebut, masyarakat lokal terjebak dalam lingkaran eksploitasi upah rendah, kondisi kerja yang tidak manusiawi, serta hilangnya hak atas kepemilikan tanah demi memenuhi ambisi komoditas ekspor global.
Perjalanan Tim Artique di babak final menyisakan cerita perjuangan yang luar biasa. Akibat kendala tak terduga, salah satu anggota tim berhalangan hadir saat hari H. Kondisi ini memaksa tim hanya diwakili oleh dua orang anggota saat mempresentasikan esai mereka di hadapan dewan juri. Meski tampil dengan formasi tidak lengkap, mereka tetap menunjukkan mental juara, tampil percaya diri, dan sukses mempertahankan argumen karya tulis ilmiah mereka hingga meraih kejuaraan.
Pencapaian besar ini memicu rasa haru sekaligus kebanggaan yang mendalam bagi keluarga besar MAN 2 Ponorogo. Kemenangan ini merupakan buah manis dari ketekunan dan sikap pantang menyerah. Sebelum mencapai titik ini, tim esai madrasah telah berulang kali mengikuti berbagai kompetisi serupa namun sering kali mengalami kegagalan.
Kegagalan demi kegagalan di masa lalu tidak meruntuhkan semangat mereka. Evaluasi tanpa henti dan kerja keras yang konsisten bersama guru pembimbing akhirnya terbayar tuntas di Yogyakarta. Prestasi memborong piala ini menjadi bukti nyata bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil.
Reporter:
Berlian Putri Kinasih XII-9





