Prestasi membanggakan kembali diraih oleh siswa MAN 2 Ponorogo. Tim yang beranggotakan Annisa Tri Yulianti, Hasna Fadhila Ramadhani, dan Azkia Ayudya Ramadhani itu berhasil meraih penghargaan Best Presentation dalam ajang EPISMA National Competition yang diselenggarakan oleh Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Kompetisi esai nasional tersebut mengangkat tema “Kolaborasi AKSI Generasi Muda dalam Membangun Komunitas Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045.” Pada kompetisi ini, tim MAN 2 Ponorogo mempresentasikan inovasi AYOMI, sebuah aplikasi edukasi berbasis gamifikasi yang dirancang untuk membantu mengurangi perundungan terhadap siswa penyandang tunarungu sekaligus memperkenalkan budaya lokal melalui folklor Klono Sewandono.
Annisa menjelaskan bahwa pemilihan topik esai berangkat dari kepedulian terhadap masih maraknya kasus perundungan terhadap penyandang disabilitas, khususnya siswa tunarungu. Tim kemudian mengombinasikan solusi berbasis teknologi dengan nilai-nilai budaya lokal Ponorogo agar inovasi yang dihasilkan tidak hanya menyelesaikan masalah sosial, tetapi juga turut melestarikan warisan budaya.
Keberhasilan meraih predikat Best Presentation tidak diraih dengan mudah. Ketua tim, Annisa Tri Yulianti, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama persiapan adalah menyampaikan gagasan yang cukup kompleks dalam waktu presentasi yang terbatas. Seluruh anggota tim harus menyusun materi secara efektif agar dewan juri dapat memahami permasalahan, solusi, serta keunggulan inovasi yang ditawarkan. Mereka juga melakukan latihan secara intensif untuk membangun penyampaian yang komunikatif, menarik, dan saling melengkapi antaranggota.
Selain itu, tim tidak hanya memaparkan isi esai, tetapi juga menghadirkan visualisasi penerapan inovasi melalui desain aplikasi, alur penggunaan fitur, serta contoh situasi yang dekat dengan kehidupan siswa tunarungu. Pendekatan tersebut membuat presentasi menjadi lebih hidup, mudah dipahami, dan mampu memberikan gambaran nyata mengenai implementasi AYOMI.
Sebagai penutup, Annisa juga memberikan pesan kepada siswa MAN 2 Ponorogo yang ingin mengikuti kompetisi serupa. “Jangan takut mencoba meskipun belum merasa sempurna. Banyak orang berpikir harus hebat dulu baru ikut lomba, padahal kemampuan justru berkembang selama proses persiapan.” ujarnya.
Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh siswa MAN 2 Ponorogo untuk terus berinovasi, mengembangkan kreativitas, serta mengharumkan nama madrasah melalui berbagai kompetisi di tingkat nasional.



