Siswa MAN 2 Ponorogo Kembali Tunjukkan Karya Tulis Terbaiknya

Ahad, 27/03/2022 menjadi hari yang sangat ditunggu oleh Niswa Azmi Zameilani ( XI IPS 1 ). Pasalnya, setelah melakukan beberapa proses yang berat ia berhasil dinyatakan sebagai juara 3 dalam ajang penulisan sejarah lokal Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Jawa Timur. Lomba tersebut dilakukan melalui beberapa tahap. “Dimulai pada Februari-Maret. Tahapan awal seluruh peserta ikut workshop penulisan sejarah pada 22 Februari, lalu pengerjaannya mulai tanggal 22 Februari sampai 17 Maret jam 14.00. Tapi pas jam dua kurang sepuluh menit ada pengumuman kalau pengumpulannya diundur sampai hari Senin, 21 Maret jam 12.00. Pengumuman  juara tanggal 27 Maret dilanjutkan pengambilan trofi pada 31 Maret bersama Bu Wiwin dan Pak Alfi’’, ungkap Niswa dalam sesi wawancara.

‘’Niswa berpegang teguh dengan niat dan motivasi berprestasi serta kendala yang dialaminya. Melalui pengalaman dapat menjadi lebih percaya diri dalam berkompetisi dan melalui tantangan juga akan menjadi terlatih untuk berproses dan berpikir secara kritis.  Selain hal tersebut dalam menghadapi lomba ini, Niswa juga menemukan adanya kendala. Yang menjadi kendala yakni proses pelaksanaan lomba dan diskusi yang sebagian dilakukan secara daring. Apalagi Niswa juga salah satu siswa yang bermukim di pondok yang mempunyai hafalan 15 juz, jadi harus pandai juga mengatur waktu antara proses belajar di MAN 2 Ponorogo, sebagai seorang santriwati dan sebagai aktifis di Karya Tulis Ilmiah. Hal tersebut karena mengingat dalam meraih prestasi di sebuah ajang kompetisi, tidak hanya membutuhkan perancangan ide yang kritis,tapi juga harus pandai dalam mengatur waktu’’,  tutur ibu Wiwin Yuni Lestari,S.Pd,M.Pd, selaku pembimbing lomba tersebut.

Memberikan judul ‘’Pengangkah’’ pada karyanya, Niswa memiliki alasan yang menarik yakni, ‘’Ada hal menarik dari judul itu, yaitu kata ‘pengangkah’ karena kata ini saya ambil ketika Raden Patah dawuh ke adiknya, Raden Katong. Pengangkah atau keinginan melangkah itu juga bisa menjadikan nilai bahwa setiap keinginan itu harus diiringi melangkah, maju, berusaha agar apa yang diinginkan tercapai.  Raden Katong mempunyai keinginan agar Islam itu tersebar di Ponorogo dengan beberapa strategi sehingga memunculkan akulturasi budaya di Ponorogo seperti pada anyaman di makam Raden Katong bergambar matahari yang melambangkan Majapahit (karena Wengker masih dibawah kerajaan Majapahit) dan segi lima melambangkan Islam pada zaman itu. Dalam prosesnya Raden Katong juga harus berjalan pulang pergi dari Demak ke Wengker (sebelum jadi Ponorogo) dalam kurun waktu yang lama”, paparnya.

Tidak hanya itu saja, Niswa juga mengungkapkan perasannya saat mengetahui prestasi yang diraihnya, “Seneng banget pastinya, hasil usaha yang bisa menyenangkan saya, orang tua, dan sekitar itu menjadi kebanggaan bagi saya, karena saya juga baru ikut lomba kayak gini baru di Mandapo”, kata Niswa.

“Harapan saya semoga dengan adanya perlombaan seperti ini bisa menambah ilmu dan pengalaman siswa -siswi MAN 2 Ponorogo. Selain itu juga jangan pernah lelah untuk mengasah diri karena kemampuan orang itu tanpa batas, sehingga bisa menginspirasi dan memotivasi khususnya siswa-siswi MAN 2 Ponorogo”, tutur ibu Wiwin sebagai pembimbing lomba menyemangati para siswa MAN 2 Ponorogo untuk berkarya lebih banyak lagi.

Reporter:  Oktafia Nur H (XI IPS 4), Anindya Naura Putri Azzahra(X MIPA 3), dan Regita Cahya Kirani(X MIPA 5)

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.